Mengapa Kecerdasan Buatan (AI) Harus Mulai Masuk ke dalam Pesantren Modern
Disrupsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) hari ini tidak lagi berdiri di ambang batas wacana ilmiah murni, melainkan telah merangsek masuk dan mengubah sendi-sendi kehidupan modern kita.
Bagi dunia pesantren, teknologi kerap kali dipandang dengan skeptisisme ganda: di satu sisi dihargai sebagai sarana pemudahan maslahat praktis, namun di satu sisi diwaspadai karena berpotensi mendistorsi keberkahan interaksi guru-murid yang sakral. Namun, di bawah koordinasi Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), kami memandang AI bukanlah ancaman melainkan wadah khidmah pemikiran kontemporer yang dahsyat.
"Teknologi digital dan kecerdasan buatan hanyalah instrumen. Jiwa pesantren (ruhul ma'had) dan otoritas sanad keilmuan tetaplah kemudi utama yang mutlak."
Dengan pemanfaatan AI yang bijak, para santri di Kediri tidak hanya dididik menjadi konsumen pasif, melainkan aktor aktif yang memprogram model bahasa besar (LLM) untuk memahami naskah kitab-kitab klasik nusantara secara presisi, menyebarkan dakwah yang sejuk, serta membangun ketahanan pangan digital di pedesaan Kediri.
Google Scholar & Profil Ilmiah Penulis
Penulis esai ini adalah akademisi aktif di Kediri. Anda dapat mengakses portofolio riset dan sitasi lengkap beliau secara terbuka.